Friday, March 9, 2018

Asia Overland. Teguran Kecil Dalam Perjalananku di Chiang Mai Thailand

Salah satu kuil di Chiang Mai, Thailand

Dalam satu jalur yang sama menuju kuil Wat Phrathat Doi Suthep ini, mataku tertuju pada sebuah petunjuk menuju air terjun Huay Keaw. Karena penasaran akupun menepikan motorku di pelataran parkir yang tidak seramai dengan kuil Wat Phrathat Doi Suthep. Untuk masuk kawasan ini tidak dikenakan biaya atau gratis, dan jarak air terjun dari pintu masuk sangat dekat hanya dua puluh meter dengan berjalan kaki. Air terjun ini merupakan salah satu tempat rekreasi keluarga penduduk lokal, terlihat beberapa keluarga yang sedang berkumpul beralaskan tikar dengan makanan yang di tempatkan dirantang yang mereka bawa sendiri dari rumah.
Beranjak meninggalkan air terjun Huay Keaw, aku melajukan motorku untuk menuju kebun binatang Chiang Mai. Dalam batinku rasanya ini kebun binatang pertama yang kusinggahi ketika melakukan perjalanan di luar negeri, hal ini bukan tanpa alasan namun karena di kebun binatang ini terdapat binatang panda dari China yang seumur-umur belum pernah kulihat secara langsung dengan mata kepalaku sendiri. Karena penasaran akhirnya akupun mencoba masuk ke kebun binatang itu untuk melihat hewan yang bulat dan lucu tersebut.
Pintu masuk ke air terjun Huay Keaw, Chiang Mai Thailand

Air terjun Huay Keaw, Chiang Mai Thailand
Air terjun Huay Keaw, Chiang Mai Thailand
Sesaat memasuki area parkiran sepeda motor, seperti biasa aku dikira salah satu petugas keamanan sebagai orang lokal. Ia menghampiriku dan berbicara dengan bahasa Thailand seraya menunjukan tempat parkir motor dengan bahasa tubuhnya, dengan membalas senyumnya aku langsung mengeluarkan pecahan uang Bath besar untuk langsung membayar karcis masuk untuk sepeda motor, dan dari kembaliannya setelah ku hitung-hitung aku mendapatkan tiket masuk harga lokal.


Setelah parkir, akupun langsung menuju ke loket pintu masuk dan melihat harga tiket masuk ke kebun binatang ini. Aku sempat ragu untuk masuk ketika melihat perbedaan harga tiket masuk yang cukup significant antara orang asing dengan penduduk lokal, bedanya sekitar lima kali lipat dari harga lokal. Rasanya kurang worth it hanya untuk melihat panda aku harus mengeluarkan 500 Bath. Tapi sayang juga jika sudah sampai disini kemudian dilewatkan begitu saja, gumamku dalam hati.
Pintu masuk ke Chiang Mai Zoo, Thailand
Hmm.. insting liarku mengatakan, sama halnya ketika saat masuk untuk parkir motor yang menjadi orang lokal, akupun kembali menyerahkan uang pecahan Bath yang besar seribu Bath sembari memberikan tanda tangan telunjuk ku yang berarti membeli satu tiket, petugas bertanya dalam bahasa Thailand dan aku hanya membalas dengan senyuman. Diserahkannya selembar tiket dengan uang kembalian sejumlah 900 Bath yang berarti aku dikenakan harga tiket orang lokal seharga 100 Bath. Ya Tuhan, apakah aku berdosa karena melakukan tindakan ini? Batinku dalam hati.


Aku mulai masuk ke dalam kebun bintang dengan pemandangan yang asri yang ditumbuhi pepohonan. Dalam perjalananku mengikuti arah ke kandang penelitian panda, setidaknya ada beberapa jenis binatang yang baru pertama kali ku lihat secara langsung yaitu burung flamingo asal Afrika yang berbulu pink serta binatang pemalu yang menggemaskan asal Australia yaitu koala. Aku berjalan mengikuti petunjuk yang ada hingga mencapai tujuan awal ku yaitu kandang panda. 
Burung Flaminggo di Kebun Binatang Chiang Mai Zoo
Kandang Jerapah di Chiang Mai Zoo, Thailand
Kandang burung unta di Chiang Mai Zoo, Thailand
Kandang Koala di Chiang Mai Zoo, Thailand
 Haah? Bayar lagi? Aku menggerutu ketika mengetahui untuk masuk ke tempat penelitian panda harus membayar tiket tambahan lagi, untuk foreigner sebesar 100 Bath sedangkan orang lokal dikenakan setengah harga. Untuk main aman pada saat membeli karcis tersebut aku memberikan selembar yang 100 Bath kepada petugas sembari menebar senyum dan memberikan bahasa tubuh dengan jari telunjukku untuk mengatakan satu tiket.  



Menuju Pintu Masuk Kandang Panda, Chiang Mai Zoo
Loket tiket masuk ke Kandang Panda di Chiang Mai Zoo, Thailand
Petugas tersebut kemudian menyodorkan selembar tiket masuk dan selembar uang 50 Bath sebagai uang kembalian. Dalam batinku aku mengatakan lagi-lagi aku bisa berhemat karena dengan adanya uang kembalian berarti aku dikenakan tiket masuk dengan harga orang lokal. Namun dalam hati ini mulai memberontak, haruskah aku jujur untuk mengembalikan uang kembali ini?



Pintu Masuk ke Kandang Panda di Chiang Mai Zoo
Petunjuk untuk mematikan flash di dalam kandang Panda
Aku mulai memasuki area penelitian panda dengan menyusuri lorong bernuansa oranye yang dihiasi pohon-pohon bambu. Setiap pengunjung yang datang ke tempat ini dilarang untuk memotret menggunakan lampu flash karena dapat menggangu panda, oleh karena itu setiap kamera yang dibawa akan direkatkan isolasi berwarna hitam pada bagian flash-nya. Memasuki ruangan panda, temperature udara menjadi lebih dingin, hal ini untuk menyesuaikan dengan habitat asli panda. Namun sayangnya panda itu berada di balik kubah kaca sehingga aku hanya dapat melihatnya dari kejauhan. 

Pintu Masuk ke Kandang Panda di Chiang Mai Zoo, Thailand

Panda yang ada di Chiang Mai Zoo, Thailand

Panda yang ada di Chiang Mai Zoo, Thailand
Setidaknya ada beberapa panda yang berada di tempat ini yang semua pandanya diberi nama dalam bahasa China. Ada yang diberi nama Chuang Chuang, Lin Ping, Lin Hui, Ei Mei, Rau Hin, Ai Hin, Mei Hin, Ei Hin. Membaca nama-nama panda itu membuatku membayangkan nama-nama prajurit di film-film kolosal kerajaan Tiongkok. Beberapa nama panda yang terpasang di bagian informasi sebagian telah dilepas ke habitat aslinya. Dan dua panda di antaranya yang bernama Chuang Chuang dan Lin Hui merupakan pemberian pemerintah China kepada Thailand yang dipinjam untuk keperluan penelitian dan pengembang-biakan panda yang mulai terancam punah ini. Tak dapat dipungkiri dengan keberadaan panda yang kini menjadi maskot kebun binatang Chiang Mai membuat kunjungan wisatawan ke kebun binatang ini meningkat secara significant.

Panda yang ada di Chiang Mai Zoo, Thailand

Panda yang ada di Chiang Mai Zoo, Thailand

Panda yang ada di Chiang Mai Zoo, Thailand
Kebun binatang Chiang Mai setidaknya memberikan alternatif tempat untuk melihat binatang panda selain di negeri asalnya China. Memang secara jumlah tentunya tak sebanyak yang di pusat konservasi di China namun setidaknya sebelum ada budget ke China, di kota ini aku bisa melihat dari dekat panda di depan mata.
Setelah menjawab penasaranku akan binatang panda, aku kembali melanjutkan perjelajahan menyusuri kota Chiang Mai untuk lebih menyelami kota itu. Terik matahari tak membuatku harus terhenti menyusuri setiap kuil yang aku lewati dan berjalan menyusuri sudut kota peninggalan kerajaan Lanna yang berdiri di area ini. Untuk melindungi dan mempertahankan kota tua ini pemerintah setempat membuat kebijakan untuk melarang pembangunan gedung pencakar langit pada area tertentu, hal ini terlihat dari tidak adanya gedung tinggi di wilayah kota yang dikelilingi tembok tua. 

Salah satu kuil di Chiang Mai, Thailand

Salah satu kuil di Chiang Mai, Thailand

Salah satu kuil di Chiang Mai, Thailand
 Siang itu terasa panas dan aspal bagai menguap, dan di tengah terik matahari di siang ini membuatku harus mandi dengan keringatku sendiri. Berhubung waktu sudah menunjukan waktu zuhur akupun mampir ke sebuah masjid di Chiang Mai untuk senantiasa berdoa untuk kelancaran perjalanan sekaligus istirahat sejenak untuk berteduh dari teriknya matahari diluar.

Salah Satu Masjid di Kota Chiang Mai Thailand

Salah Satu Masjid di Kota Chiang Mai Thailand

Salah Satu Masjid di Kota Chiang Mai Thailand

Salah Satu Masjid di Kota Chiang Mai Thailand
 Setelah selesai sholat aku kembali memacu laju sepeda motorku dengan kecepatan sedang membelah jalan yang sepi dan menyusuri setiap sudut kota. Ckiiittt.. Braaaakk! Di tengah perjalanan, tubuhku terhempas dan terjerembab mencium aspal yang panas di siang hari itu. Di sebuah persimpangan jalan itu aku dikagetkan dengan keberadaan tuk-tuk yang berada dihadapanku yang tiba-tiba berbelok arah ke kanan sesaat aku mau menyalipnya. Aku jatuh terpelanting dari motor yang kuinjak remnya dengan keras secara mendadak kemudian kehilangan keseimbangan dan tersungkur ke jalan raya. “Arrrgghhh!, dasar tuk-tuk!, gw kira cuma bajaj di Jakarta aja yang suka belok seenaknya!” Aku mengumpat dalam hati dan merintih kesakitan.


Aku segera mengangkat tubuhku yang terjatuh dan menyeret motor yang tiba-tiba tidak bisa di starter untuk dibawa kepinggir jalan sejenak agar tidak menggangu lalu lintas saat itu. Siang itu untungnya kondisi jalanan begitu lengang dan sepi, tak dapat kubayangkan apabila di belakangku ada kendaraan lain yang mungkin bisa membuat lukaku bertambah parah.
Seorang perempuan paruh baya yang kebetulan melihat kejadian itu datang menghampiriku. Dalam bahasa Thailand sepertinya dia menanyakan apakah aku baik-baik saja dan mempersilahkanku untuk duduk sejenak di depan warungnya. Aku membalasnya dengan senyum dan mengatakan aku baik-baik saja. Kunaikan standar tengah motorku dan kemudian aku cek apa saja yang rusak. Tampak beberapa lecet kecil di bagian spakboard depan dan footstep bagian kiri menjadi bengkok.


Dengan kakiku, aku tendang berkali-kali footstep tersebut agar bisa lurus kembali dan sedikit memperbaiki pijakan persneling yang juga sedikit bengkok. Auuwwww!, kakiku terasa keram. Aku gulung celanaku untuk melihat seberapa parah luka ku, tampak ada memar luka dalam bewarna kemerahan dilututku akibat tergores dengan aspal ketika terjatuh tadi. Jempol kaki kiriku yang sempat tertimpa motor membuat rasanya nyut-nyutan. Aku yakin kaki ini sedikit terkilir yang membutuhkan krim atau pijatan untuk meringankan rasa sakit ini.
“Ya Tuhan, mengapa ini terjadi kepadaku? Apakah Engkau marah kepadaku?” Batinku dalam hati. Namun kejadian ini langsung membuatku merenung dan bercermin merefleksikan diri dengan apa yang telah aku lakukan. Aku langsung teringat kembali kata-kata guru pengajianku, semua terjadi karena suatu alasan. Mungkinkah ini hukuman untukku yang tidak jujur ketika di kebun binatang tadi?


Rasanya ini hanyalah peringatan kecil saja dari Nya. Untung saja aku sedang memakai sepatu tertutup, jaket dan celana kargo yang cukup tebal bahannya yang melindungiku dari luka yang lebih parah. Rencana perjalananku masih panjang ke depan. Andai saja lukaku parah, mungkin aku harus berdekam di rumah sakit dulu hingga sembuh baru bisa melanjutkan perjalananku. Namun Tuhan masih sayang denganku, walaupun terluka aku masih bisa kembali ke guesthouse untuk menyembuhkan luka ku dan bersih-bersih badan yang berkeringat karena cuaca yang terik dan lelah mendorong motor yang sempat mogok ini. 


Bandara Internasional Chiang Mai, Thailand

Pesawat Air Asia terbang membawaku terbang dari Chiang Mai kembali ke Bangkok Thailand
Tuhan masih sayang denganku, aku masih dapat berjalan walau tergopoh-gopoh dan menyeret langkah kakiku ke bandara untuk mengejar connection flight ku ke Vietnam dengan tiket promo yang kuperoleh setahun yang lalu. Kota ini mengajarkanku untuk lebih berhati-hati saat di perjalanan di kota-kota berikutnya dan senantiasa berbuat jujur dalam setiap perjalananku. 


Baca Artikel Tentang Thailand lainnya disini
           #Cross Border : Dari Kuala Lumpur Malaysia ke Hatyai Thailand Selatan

Follow my instagram @travelographers , Youtube account shu travelographer 
twitter account @travelographers  and google plus account +shuTravelographer
and if you found the post useful or interesting please do share! :)


Apabila bermanfaat dan menginspirasi, mohon di-bookmarks dan di-share ya
Salam Pejalan. 

2 comments:

Ready To Explore? Let's go see and travel the world

Please do kindly subscribe to my travel blog, the place where i would share any of my travel enthusiasm there such as travel stories, travel articles and travel photos.