Wednesday, June 11, 2014

Sailing Trip, Berlayar Dari Pelabuhan Kayangan Lombok


sailing trip, living on board, live aboard, lombok, sumbawa, dompu, komodo, flores, labuan bajo
Pelabuhan Labuan Kayangan Lombok, Indonesia
      Suara deru mesin yang mulai dihidupkan mengiringi para peserta trip yang mulai merangkak naik ke dalam kapal. Jangkarpun diangkat seiring para anak buah kapal yang sudah melepaskan beberapa tali tambang yang mengekang kebebasan kapal ini untuk meninggalkan zona kenyamanan berlabuh di dermaga.
        Seperti halnya kami yang juga meninggalkan zona kenyamanan hidup di daratan dan akan mencoba memulai petualangan hidup berlayar di atas kapal di tengah lautan dan bersiap untuk terombang-ambing gelombang ombak untuk empat hari mendatang.
        Kepala nahkoda yang berada di kabin atas mulai mengarahkan kemudi menuju pulau impian di tengah samudera. Perahu layar bertiang satu yang sudah dilengkapi mesin diesel dan genset untuk sumber listrik di kapal mulai meluncur dari Pelabuhan Kayangan Lombok membelah samudera menuju laut Flores.

Tuesday, June 10, 2014

Sailing Trip, Gagahnya Kapal Kami - KLM Halma Jaya

sailing trip, living on board, live aboard, lombok, sumbawa, dompu, komodo, flores, labuan bajo
Kapal KLM Halma Jaya yang membawa kami Sailing Trip dari Lombok ke Pulau Komodo

        Dua buah kapal pinisi yang besar tampak bersandar di dermaga beton, tak tampak kapal kayu kecil yang selama ini ada dibenak kami yang kerap digunakan Kencana Adventure untuk Saling Adventure Trip ke Pulau Komodo. Sepertinya dewi fortuna ada disisi kami saat ini, ketika Pak Yoyo dan Bang Mahdi yang bertugas sebagai pemandu kami mengatakan Kapal inilah yang akan membawa kami untuk berlayar 4 hari kedepan.
         Kami cukup terkejut dengan hal ini. Dalam hidup terkadang jika kita tidak terlalu berekspektasi lebih akan suatu hal, maka dunia akan memberikan kejutan yang lebih besar untuk diberikan. Rasanya dengan kapal sebesar ini membuat pelayaran akan lebih menyenangkan karena tampak lebih tangguh untuk mengarungi Laut Flores yang terkenal garang itu.
     Setidaknya kapal ini berkapasitas mengangkut 60 tamu beserta beberapa awak kapal yang bertugas. 45 diantaranya adalah peserta trip dari berbagai negara yang telah gariskan oleh Tuhan untuk bertemu dan dipersatukan dalam open trip bersama Kencana Adventure ini untuk berlayar dari pelabuhan Kayangan Lombok Timur menuju Pulau Komodo dan berakhir di Labuan Bajo, Flores.

Monday, June 9, 2014

10 Hal Yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Sailing Trip ke Pulau Komodo



sailing trip, living on board, live aboard, lombok, sumbawa, dompu, komodo, flores, labuan bajo
Kapal Yang Membawa Kami Untuk Sailing Trip dari Lombok Menuju Pulau Komodo

        Dari pengalaman ku berlayar dari Lombok ke Taman Nasional Komodo sampai Labuan Bajo, berikut beberapa hal yang perlu dipersiapkan untuk membuat perjalanan di laut lebih menyenangkan.

1.      Obat anti mabuk.
Bagi kamu yang memiliki riwayat suka mabuk perjalanan, tentunya sangat dianjurkan membawa obat anti mabuk perjalanan untuk mengurangi dampak mual maupun pusing karena terombang-ambing gelombang laut Flores. Untuk kamu yang tahan mabuk perjalananpun tak ada salah nya untuk membawa just in case dibutuhkan.

2.      Sleeping bag
Bermalam dan berlayar di Perahu tentunya akan menghadirkan suasanya tidur yang berbeda dalam kehidupan keseharian kita. Angin laut yang berhembus kencang terutama kapal sedang berlayar disaat kita tidur dapat menyebabkan masuk angin bagi siapa saja yang tubuhnya tidak kuat diterpa angin. Walaupun pihak kapal umumnya menyediakan selimut, namun ada baiknya membawa sleeping bag untuk menghangatkan tubuh dan mencegah masuk angin serta membuat tidur lebih nyaman.

3.      Jacket
Hembusan angin laut begitu terasa menggigil khususnya pada  saat pelayaran malam hari. Untuk mengurangi dampak angina tersebut ada baiknya membawa jacket yang dapat kita pergunakan untuk melindungi tubuh dari tamparan angina laut yang kencang.

Thursday, June 5, 2014

Sailing Trip Lombok ke Pulau Komodo, Persiapan



sailing trip, living on board, live aboard, lombok, komodo, flores, labuan bajo
Sailing Trip, Dari Lombok ke Pulau Komodo dan Labuan Bajo Flores


       Nenek moyangku orang pelaut. Gemar mengarung luas samudra. Menerjang ombak tiada takut. Menempuh badai sudah biasa. Angin bertiup layar terkembang. Ombak berdebur di tepi pantai. Pemuda b'rani bangkit sekarang. Ke laut kita beramai-ramai. Sepenggal lirik lagu Nenek Monyangku seolah menceritakan kembali bagaimana nenek monyang kita gemar mengarungi luas samudera sebagai seorang pelaut yang handal.
       Daya jelajah para pelaut kuno Nusantara sangat tinggi. Nenek Monyang kita melaut hingga ke daratan Eropa dan Afrika. Zaman dahulu, para pelaut menggunakan teknologi pergerakan arah mata angin. Dalam beberapa catatan mitologi sejarah dalam kitab-kitab kuno seperti Ramayana dan Mahabarata, Kepulauan Nusantara memang disebut-sebut memiliki kejayaan peradaban maritim yang tinggi.
      Di era kejayaan beberapa kerajaan di Nusantara, pelaut di negeri kita tersohor ke berbagai belahan dunia. Bangsa kita telah berlayar jauh menggunakan kapal bercadik hingga Kapal Layar Pinisi yang menggunakan jenis layar sekunar dengan dua tiang dengan tujuh helai layar. Kabarnya nenek monyang kita telah mengarungi samudera mulai dari utara mengarungi lautan, ke barat memotong Lautan Hindia hingga Madagaskar, ke timur hingga Pulau Paskah.

Tuesday, June 3, 2014

A beautiful and grand mosque, Baiturrahman Grand Mosque Banda Aceh - Indonesia

Baiturrahman Grand Mosque – Banda Aceh

Aceh Province is a Part of Indonesia, located on the northern tip of the island of Sumatra. It is thought to have been in Aceh where Islam was first established in Southeast Asia. Aceh Province is thought to have been the place where the spread of Islam in Indonesia started, and was a key part of the spread of Islam in Southeast Asia. Talk about Islam, In Aceh there is a large mosque located in the center of the city of Banda Aceh namely Baiturarhman Grand Mosque.
This mosque was designed by an Italian architect and built by the Dutch colonial administration as a token of reconciliation following their destruction of an older mosque during the Aceh wars.  The design of the Mosque combines influences of European colonial and Moghul Indian Islamic Architecture. Construction of the mosque commenced in 1879 and was completed in 1881. The initial mosque were smaller and consist of a single dome. Years later the mosque were renovated and expanded by constructing additional wings. The mosque survived the massive 2004 tsunami which destroyed much of the rest of the city of Banda Aceh.
With Magnificient Structure with black domes are uniquely constructed from hard wood shingles combined as tiles. The mosque incorporates a few traditional Aceh decorative elements and features. The architectural design with a number of pillars made it possible for the fast running current of tsunami to pass through without destroying the whole mosque. This is one of the great power of the Almighty that saved Aceh.

Sunday, June 1, 2014

Menikmati Sajian Kuliner Aceh di Warung Lem Bakrie, Banda Aceh



Sajian Kuliner Makanan Khas Aceh

  Beberapa jam sebelum penerbanganku kembali ke Jakarta kami diantar kesebuah tempat makan di Banda Aceh. Sekitar pukul sebelas lewat tiga puluh menit kami tiba di Warung Nasi Kambing Lem Bakrie yang lokasinya di Jalan P. Nyak Makam, Lamteh Ulee Karang Banda Aceh ini.
“Ada hubungannya dengan Keluarga Bakrie gak nih?, Frenchiesnya kah?” Aku berkelakar.
“Hahaha, ngga ada. Ini Asli Aceh” Terang temanku yang membawa kami kesini.
Warungnya dibangun berbentuk pondok dengan bahan bangunan kayu yang mendominasi mulai dari tiang penopang, hingga lantai untuk berpijak. Untuk menampilkan kesan tradisional warung ini pun dibangun dengan beratapkan jerami.  Kuamati sekeliling ruangan, warung ini dapat menampung kurang lebih tujuh puluh pelanggan, ukuran yang cukup besar untuk bisa menampung para pecinta kuliner khas Aceh.
Dengan ramah, pelayan warung ini langsung menyediakan meja untuk kami. Tanpa kami minta, dengan sigap pelayan lainnya segera menyajikan aneka masakan Aceh diatas meja. Di warung ini pelayanannya seperti warung padang yang semua makanannya disajikan diatas meja, dan kita hanya perlu membayar sejumlah apa yang kita santap.

Monday, May 26, 2014

Tertegun dan Merinding di Museum Tsunami Aceh



Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh, Indonesia

 Hari itu pagi kelabu. Langit biru mematung lugu. Tiada hujan yang meluruh. Tiada angin yang menderu. Tapi nanggroe ini hancur lebur. Goncangan bumi luapkan samudra. Melumat daratan , Entah apa yang terjadi . Tak seorangpun bisa pahami. Seketika saja semuanya tercerai berai. Saat air hitam menghantam kehidupan. Tiada lagi sanak saudara. Biarkan saja mereka sendiri. Karena pelukan erat tak lagi berarti. Pisahkan anak dari orang tua. Suami dari istri. Kekasih dari yang di kasihi. Sementara awan kesedihan menggelayut manja. Menggantung pilu. Payungi bumi yang kini berduka. Itu adalah sepenggal lirik lagu tentang tsunami di Aceh yang menyayat hati bagi siapa saja yang mendengar dan melihat kembali tayangan video bencana tersebut.
Memenuhi janjiku kepada pak Sam yang menceritakan Cerita Pilu Bencana Tsunami di Aceh yang dialami keluarganya serta cerita pak Dede yang telah banyak bercerita tentang kisah Wanita Bermata Biru di Lamno yang daerahnya juga luluh lantah karena bencana tsunami tersebut, kami mampir ke Museum Tsunami Aceh yang memiliki desain arsitektur yang unik dan mengagumkan. Desainnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan museum pada umumnya. Museum ini di desain oleh arsitektur anak bangsa Pak Ridwan Kamil yang kini menjabat sebagai walikota Bandung.
Desainnya dikenal dengan sebutan Rumoh Aceh as Escape Building’ yang menggabungkan rumoh Aceh bertipe panggung dengan konsep ada bukit untuk evakuasi pada bagian atapnya. Didalam bangunan ini didesain unik dan memiliki beragam filosofi pada masing-masing yang mendeskripsikan gambaran tentang tsunami sebagai memorial dari bencana besar yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004 silam yang menelan korban jiwa yang mencapai kurang lebih 240.000 jiwa.

Friday, May 23, 2014

Sepenggal kisah Wanita Bermata Biru di Lamno



Wanita Lamno Bermata Biru (pic courtesy : Buku Si Mata Biru Sri Waryanti)
Beberapa hari setelah perbincangan saya dengan Pak Sam mengenai pengalaman pribadinya di terjang ombak tsunami, dalam perjalanan pulang dari kota Meulaboh menuju Banda Aceh kami menyusuri jalan yang sama yaitu mengikuti jalan dipesisir pantai. Dari sini aku melihat jalan-jalan lama dan jembatan lama yang sudah tidak dilalui lagi karena sudah hancur oleh terjangan ombak tsunami.
“Lihat jalan sebelah sana? Dulu sebelum tsunami kita tidak melalui jalan baru ini” Terangnya kepadaku
Namanya Pak Dede, beliau adalah putra daerah Meulaboh yang telah tinggal di Aceh sejak lahir hingga usianya yang kini mulai meranjak setengah abad. Setelah Pak Sam, kini dia lah yang akan banyak bercerita kepadaku tentang bencana tsunami tersebut dalam perjalanan pulang ke Banda Aceh. Walau bencana tersebut sudah sepuluh tahun berlalu, namun dari cara dia bercerita seperti menceritakan kejadian yang belum lama terjadi. Begitu membekasnya memory bencana itu yang dampaknya luar biasa hingga ke psikologis warga setempat.
“Berarti dulu enak ya pak jalurnya bener-bener pinggir pantai, kalau pengen istirahat bisa langsung minggir” Ucapku

Wednesday, May 21, 2014

Sepenggal Cerita Pilu Bencana Tsunami di Aceh

Salah Satu Dampak Terjangan Ombak Tsunami Beberapa Tahun Silam

 Seorang bapak berlari sekuat tenaga ketika tiba-tiba melihat ombak besar setinggi pohon kelapa mulai menerjang apa saja yang ada dihadapannya. Diraihnya anaknya yang masih kecil dalam rangkulannya untuk dibawanya berlari menghindari terjangan ombak itu. Dia terus berlari dengan cepat menuju tempat yang aman sesaat terjadi gempa yang besar dan bencana tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 silam. Itu merupakan bayangan yang dapat kuhadirkan dalam pikiranku ketika mendengar cerita pilu yang disampaikan salah satu client saya di Meulaboh Aceh.

Namanya Pak Sam, beliau merupakan salah satu penduduk setempat Meulaboh yang merupakan salah satu daerah dengan kerusakan terparah dan korban tsunami terbanyak ketika bencana itu menerjang, memporak-porandakan semua yang ada disana.

“Awal bencananya gimana pak?” Tanyaku kepadanya untuk melanjutkan ceritanya mengenai bencana tsunami

“Pertama ada gempa besar yang kencang, semua orang panik berhamburan ke jalan” Terangnya

“Terus Bapak Ada dimana?” Tanyaku

Tuesday, May 20, 2014

Beberapa Macam Kopi Aceh Yang Patut kamu coba di Aceh



Beberapa Jenis dan Merek Kopi Aceh

Jika berbicara tentang Aceh tentunya salah satu yang khas dan terkenal yaitu cita rasa kopinya. Bagi kamu pecinta kopi tentunya wajib mencicipi kopi tradisional Aceh memiliki cita rasa yang khas dengan aroma yang nikmat.  Secara umum terdapat dua jenis kopi yang telah dibudayakan ditempat ini yaitu kopi Robusta dan kopi Arabica. Dengan kualitas rasa yang nikmat tak heran kopi Aceh pun telah dipasarkan keberbagai penjuru negeri Indonesia dan telah mendunia hingga ke pasar Asia, Eropa dan Amerika.
Salah satu jenis kopi Robusta yang digemari yaitu kopi Ulee Kareng yang menggunakan 100 persen kopi Arabica asli. Jenis biji kopi yang digunakan yaitu kopi merah segar yang didapatkan dari dataran tinggi Aceh yang dipetik oleh petani kemudian langsung diproses melalui pengeringan matahari kemudian terpilihlah biji kopi yang berkualitas. Biji kopi berkualitas tersebut kemudian digongseng dan digiling dengan tingkat kehalusan yang sesuai standar kemudian langsung dikemas sehingga kenikmatan cita rasa kopi Robusta tetap terjaga.


Sedangkan untuk jenis kopi Arabica yang cukup dikenal yaitu kopi Aceh Gayo yang menggunakan 100 persen Kopi Arabica. Jenis kopi Aceh ini merupakan salah satu jenis kopi yang paling banyak dikembangkan oleh petani kopi Gayo di dataran tinggi Gayo Aceh. Jenis kopi ini telah dikenal dikalangan pecinta kopi dari berbagai penjuru dunia karena cita rasa yang khas dan aroma kopi yang harum. Jenis kopi satu ini juga dikenal sebagai salah satu minuman kopi Gayo yang memiliki peringkat premium.

Friday, May 16, 2014

Daftar Oleh-Oleh Khas Serambi Mekah Aceh

Penjual Oleh-Oleh di Provinsi Aceh, Indonesia

       Salah satu budaya orang Indonesia ketika berpergian yaitu membawa buah tangan atau oleh-oleh untuk keluarga atau kerabat terdekat. Rasanya ada yang kurang jika kita kembali ke rumah tanpa bawa oleh-oleh. Jangankan pada saat kita mau pulang kembali ke rumah, sebelum pergi saja biasanya sudah ada saja yang menitip atau memesan dibawakan oleh-oleh seperti halnya teman seperjalananku ini yang dititipkan membawa oleh-oleh Roti Boi Khas Aceh.
         Karena titipan itu sebelum pulang kamipun menyempatkan untuk mampir ke toko yang menjual aneka makanan untuk oleh-oleh khas Aceh.
Jika kamu pergi ke serambi mekah Provinsi Aceh, berikut beberapa oleh-oleh yang dapat kamu beli untuk dibawa pulang untuk keluarga atau kerabat dekat.

Ready To Explore? Let's go see and travel the world

Please do kindly subscribe to my travel blog, the place where i would share any of my travel enthusiasm there such as travel stories, travel articles and travel photos.