Monday, August 4, 2014

Sailing Trip, Savana Yang Menguning di Pulau Rinca

Savana Yang Menguning di Pulau Rinca, Kepulauan Komodo - Indonesia
      “Welcome to Komodo National Park Loh Buaya” Sebuah gapura kayu di ujung dermaga berdiri kokoh menyambut siapa saja yang datang ke Pulau ini. Setidaknya ada beberapa display informasi yang mengisyaratkan larangan untuk tidak menyalakan api, berburu binatang liar, melakukan penebangan hutan serta melempar jangkar di perairan Loh Buaya ini.
     Pulau Rinca yang juga masuk menjadi bagian dari Situs Warisan Dunia UNESCO yang perlu dilestarikan ini merupakan habitat asli binatang Komodo serta berbagai jenis binatang lain seperti kerbau, ayam hutan, monyet, rusa, babi liar dan burung-burung. Dan kabarnya sama seperti Komodo yang merupakan salah satu hewan purba, binatang buaya juga hidup di Loh Buaya ini. 
Dermaga Pulau Rinca
Menunggu Giliran Untuk Berlabuh

Ribuan Ikan Kecil Hidup di Dermaga Ini
Beberapa Perahu Nelayan Di Sekitar Pulau Rinca
    Tidak hanya Ranger saja yang menginformasikan kepada kami untuk tidak memberi makanan ke binatang liar disini, namun hal ini bisa juga dilihat pada dua papan informasi yang tertulis “Do Not Feed The Animal” dan “Terima Kasih Anda Tidak Memberikan Makan/Minum ke Satwa Liar di Kawasan Ini” yang dipasang tak jauh dari gapura. Dan benar saja apa yang diucapkan Ranger tersebut, ketika kami melewati kawanan monyet tersebut, tidak terlihat tanda-tanda monyet tersebut hendak mencuri isi tas barang bawaan rombongan kami.
   Aura kehidupan liar di hutan ini terasa begitu kental semenjak pertama kali kami menyusuri jalan setapak yang di tepi sebelah kiri tumbuh sederetan pohon bakau yang rindang. Kami terus berjalan berkelompok menuju Kantor Pengelolaan Taman Nasional Wilayah 1 Pulau Rinca untuk diberikan pengarahan sebelum melakukan trekking. Pemandangan yang dihadirkan kini berganti menjadi hamparan tanah yang luas dengan bukit-bukit gersang dan hutan yang cukup rimba di kaki bukitnya. 
Dari Dermaga Mulai Berjalan Menuju Pulau Rinca
Salah Satu Gapura Selamat Datang di Pulau Rinca
Pohon Bakau Di Sekitar Pulau Rinca
Jalan Setapak Menuju Kantor Pengelola Pulau Rinca

Salah Satu Komodo Yang Menyambut Kedatangan Kami

Salah Satu Ranger Yang Mengantarkan Kami Berkeliling Pulau Rinca

Toko Cinderamata & Kantor Pusat Konservasi
   Setelah kami berkumpul, seorang Ranger segera memulai memberikan pengarahan sebelum trekking memasuki area hutan, sarang dari Komodo. Ketika kulemparkan pandangan ke arah lain, fasilitas disini tampaknya tak kalah bagusnya dengan di Pulau Komodo. Setidaknya disekitar Kantor Pengelola terdapat fasilitas toilet yang bersih, kafetaria yang menjual aneka makanan kecil dan minuman dingin, serta toko cenderamata yang dibangun atas kerja sama Non Profit Organization (NGO) konservasi, The Nature Conservacy (TNC) dengan Taman Nasional Komodo dan pemerintah melalui PT Putri Naga Komodo.
    Melihat lansekap perbukitan yang diselimuti semak belukar kering berwarna kuning keemasan membuat fokusku teralihkan. Rasanya dalam perjalanan trekking kali ini Aku lebih tertarik dengan pemandangan Pulau Rinca yang menawan dibandingkan dengan Komodo itu sendiri mengingat kami sudah melihatnya di Pulau Komodo.
    Sama seperti di Taman Nasional Baluran di Jawa Timur, di Pulau ini terdapat juga beberapa tulang belulang tengkorak kerbau, rusa dan binatang lain hasil buruan Komodo yang tersisa. Tulang-tulang tengkorak tersebut dipajang dan diikat dalam sebaris kayu tak jauh dari tempat kami diberikan pengarahan oleh Ranger. 
Sisa Tulang Belulang Dari Hewan Yang Telah Di Mangsa Komodo
    Bermodalkan setongkat kayu yang bercabang di ujungnya berbebtuk huruf Y, Ranger kami siap mengawal kami menyusuri sarang-sarang Komodo di Pulau Rinca ini. Baru beberapa meter kami berjalan sudah tampak seekor anak Komodo yang sedang turun dari pohon untuk berburu mencari makan. Seekor ayam hutanpun tak luput dari pandangan kami yang lewat tak jauh dari jalur setapak yang hendak kami lewati. 
Berjalan Memasuki Kawasan Hutan di Pulau Rinca

Banyak Jalan Bercabang di Pulau Rinca

Terus Berjalan Menyusuri Pulau Rinca
    Jalan setapak yang bercabang-cabang di tengah hutan berpotensi membuat kehilangan arah bagi siapa saja yang tidak mengenal medan ini dengan baik. Oleh karena itu demi keamanan para pengunjung, rasanya untuk tetap berada dalam kelompok adalah hal yang harus dipatuhi agar tidak tertinggal kemudian tersesat di dalam sarang Komodo ini.
     Perjalanan kami sempat terhenti ketika tiba disebuah sarang telur Komodo. Ranger kami mengatakan untuk mengecoh predator telur Komodo, sang induk akan membuat beberapa lubang kosong di tanah di sekitar lubang tempat telur itu dieram. Setidaknya predator yang memburu telur tersebut selain ular, burung elang juga bisa dari Komodo lain yang hendak memangsa. Sebuah sarang komodo rata-rata berisi 20 telur yang akan menetas setelah 7 sampai 8 bulan, hampir sama seperti kita selama sembilan bulan di kandungan. Ujarnya menjelaskan. 
 

Berjalan di Sekitar "Rumah" Komodo

Sang Ranger menjelaskan sarang komodo yang berisi telur dihadapannya

Salah Satu Hewan Liar Yang Menjadi Mangsa Komodo

Perbukitan Savana di Pulau Rinca

Sampai di Salah Satu Puncak Bukit Savana
   Sementara kaki langit meninggi, sinar mentari semakin terik menghunjami perbukitan terbuka yang begitu gersang yang diselimuti rerumputan savana yang menguning. Aku memicingkan mata karena terik matahari menembus pupil yang otomatis berproses akomodasi. Sederetan pohon lontar dan pohon gebang menjadi pemandangan khas yang disajikan dalam lansekap pulau ini. Kami terus berjalan berbaris menyusuri perbukitan savana yang indah ini. Ke mana pun mata memandang, terlihat bukit-bukit kecil yang didominasi semak-semak rumput yang menguning di musim kering. 

Ranger Akan Senantiasa Menjaga dan Menemani Setiap Pengunjung

Berjalan Menyusuri Padang Savana

Savana Yang Mengering

Kerbau Liar Yang Sedang Melewati Padang Savana

Banyak Komodo Yang Terpancing ke Bagian Dapur Karena Indera Penciumannya Sangat Tajam
Dermaga Pulau Rinca.
   Rasanya secara keseluruhan, lansekap Taman Nasional Komodo ini merefleksikan kehidupan di masa purba yang tidak ada duanya di dunia. This is The Real Jurrasic Park!. 


Lanskap Pulau Rinca - Perbukitan Savana, Bakau Dan Kepulauan dengan Laut yang Biru
Pemandangan yang Mempesona dari Bukit Savana di Pulau Rinca.
Bersambung. 
Baca Chapter Selanjutnya : Sailing Trip, Pulau Mungil Bernama Kelor

Follow my instagram @travelographers & twitter account @travelographers 

No comments:

Post a Comment

Ready To Explore? Let's go see and travel the world

Please do kindly subscribe to my travel blog, the place where i would share any of my travel enthusiasm there such as travel stories, travel articles and travel photos.