Friday, January 2, 2015

Bandara Soekarno Hatta Yang Semakin Sesak

Antrean Pesawat Menuju Landasan Yang Menggambarkan Kepadatan Bandara Soekarno Hatta


     Langit masih gelap ketika diriku tiba di bandara. Walau suasananya masih remang pagi itu bandara sudah begitu ramai, tak kalah riuhnya dengan terminal bus dan stasiun komuter yang ada di pusat kota. Antrean sudah mengular panjang berkelok hingga pintu masuk setelah pemeriksaan dengan sinar x-ray. Tampak ratusan orang menunggu giliran untuk mendaftarkan diri ke beberapa loket yang telah disediakan. Deg! Jantungku berdetak lebih kencang setelah menatap jam dinding yang terpasang di salah satu sudut terminal yang seolah-olah terus mengejarku.
    Rasanya kepadatan yang melanda sudut-sudut di kota-kota besar di Indonesia juga dialami oleh bandara-bandara internationalnya khususnya bandara terbesar yaitu Bandara Soekarno Hatta. Ratusan mungkin ribuan orang saling telah berada di bandara ini untuk menuju tujuannya masing-masing. Sayup-sayup terdengar suara bearing roda rusak dari trolley yang didorong para penumpang dan porter untuk mengangkut barang bagasi terasa memekakan telinga diantara suara riuh calon penumpang yang memadati ruangan. Bunyi dengung roda besi yang bergesek dengan lantai bandara itu menambah pening suasana hatiku yang sedang khawatir karena takut tertinggal jadwal pesawat.

Kepadatan Bandara Soekarno Hatta Sudah Dimulai Sejak Pintu Masuk

Kondisi Trolley Yang Rusak Namun Masih Aktif Dipergunakan
Kondisi Roda Trolley Sudah Banyak Yang Usang dan Tidak Layak Jalan
       Beruntung walaupun kedatanganku cukup mepet dengan batas waktu yang diperbolehkan untuk check in namun aku dapat melewatinya dengan lancar. Sebelum masuk ke waiting room aku diharuskan untuk membayar airport tax dengan cara pembayaran tunai. Ketika hampir semua negara telah memberlakukan airport tax sudah termasuk di dalam harga tiket penerbangan namun di negeri ini masih saja memberlakukan pembayaran airport tax manual yang kerap merepotkan dan tidak praktis!. Padahal dulunya pernah ada wacana (sudah ada peraturan pemerintahnya) semua maskapai penerbangan diwajibkan untuk mengkalkulasi harga airport tax agar sudah masuk dalam komponen harga tiket. Hal ini sudah dijalankan oleh Garuda Indonesia dan Citilink.
       Namun seiring waktu ketika tenggat waktu yang diberikan pemerintah tentang pemberlakuan airport tax belum juga dilaksanakan oleh maskapai lain akhirnya pihak Garuda Indonesia dan Citilink pun berencana untuk mengeluarkan (kembali) airport tax dari harga tiket sehingga harga tiket mereka menjadi lebih kompetitif jika dibandingkan dengan maskapai lain yang tidak memasukan airport tax kedalam harga tiket. Hal ini (sepertinya) diperparah karena pemerintah yang labil dan tidak tegas serta otoritas bandara dalam hal ini Angkasa Pura dan pihak maskapai masih kisruh masalah mekanisme pembayaran airport tax dari maskapai ke pengelola bandara (cmiiw).
Sebegitu liciknya kah maskapai-maskapai penerbangan sehingga tidak bisa dipercaya untuk menyetor airport tax kepada pemerintah sesuai tiket yang terjual? Atau sebegitu bebalkan mental-mental para pejabat di pemerintahan kita khususnya yang mengatur dunia perhubungan dan bandara sehingga begitu sulitnya bertransformasi menjadi lebih baik. Ketika jaman sudah semakin maju dengan teknologi transfer uang secara realtime namun sayangnya bangsa ini (masih) lebih suka cara manual untuk mengumpulkan airport tax dengan pembayaran tunai dari para penumpang. 
Dengan jumlah penumpang yang menggunakan jasa penerbangan mencapai ratusan juta orang dalam setahun tentunya perputaran uang untuk airport tax terbilang sangat fantastis angkanya. Berkaca melihat realita yang ada tentunya semakin banyak uang berputar (terlebih lagi secara manual) tentunya sangat besar berpotensi bocor dan banyak celah penyimpangan. Akupun langsung bermimpi mudah-mudahan suatu kelak bangsa ini dikelola oleh orang-orang yang lebih visioner dan tidak takut untuk berubah menjadi lebih baik.

Kerugian dari sisi penumpang yakni mereka harus menyiapkan uang tunai dan rela menyisahkan waktu lebih untuk mengantre membayar airport tax ini setiap kali mau terbang. Namun disisi lain keuntungan dari sisi penumpang jika membayaran airport tax secara manual yakni ketika membatalkan penerbangan atau gagal terbang saja sehingga hanya rugi di harga tiket tanpa perlu rugi sudah membayar airport tax. Namun dengan perkembangan zaman yang menuntut segalanya lebih praktis tentunya pembayaran airport tax yang sudah dimasukan dalam komponen tiket lah yang paling efesien dan efektif khususnya untuk para penumpangnya. Dari sisi pemerintah dan maskapai tentunya memudahkan untuk mengontrol perputaran uang airport tax tersebut yang tentunya dapat dialokasikan untuk meningkatkan pelayanan di bandara agar terus menjadi lebih baik.
      Setelah membayar airport tax tanpa membuang waktu akupun langsung bergegas untuk menuju waiting room tempat menunggu keberangkatan pesawat. Ruang tunggu itu tampak penuh calon penumpang dan memaksaku untuk berdiri menunggu di salah satu sudut ruang. Jumlah kursi tunggu tidak mampu menampung para calon penumpang yang ada. Akupun memilih untuk diam menunggu waktu boarding tiba. 

Kondisi Bandara Soekarno Hatta di Jam Sibuk (phpto taken from desamodern.com)
    Ketika petugas maskapai penerbangan telah mengumumkan pesawat siap boarding semua penumpang langsung mengular untuk berebut masuk ke dalam bus yang akan mengantarkan ke pesawat yang terparkir di apron yang letaknya cukup jauh dari bandara. Dan ketika semua penumpang telah naik dan sang pilot telah mendapatkan izin dari otoritas bandara pesawatpun mulai bergerak perlahan menuju landasan.
Majalah Di Soekarno Hatta Diikat Dengan Tali Supaya Tidak Hilang?
    Kepadatan tak berhenti sampai ruang tunggu di bandara saja, untuk bisa lepas landas pesawat yang ku tumpangi inipun harus mengantre menunggu gilirannya untuk terbang. Hal ini dapat kulihat dai balik jendela kaca pesawat dari tempat dudukku. Kemacetan tidak hanya di jalan raya kota-kota besar di negeri kita, kini dengan kebutuhan transportasi udara yang semakin besar yang diamini padatnya jadwal penerbangan membuat kondisi di landasan pacu inipun ikut macet.
Jalan Raya Untuk Pesawatpun Macet :D
    Dalam diamku aku mencoba untuk tidak mengeluh karena aku telah menyadari bahwa kini  Bandara Soekarno Hatta telah dinobatkan sebagai salah satu dari 10 Bandara terpadat di dunia dan ke-4 di Asia Pasifik. Dengan melayani sekitar 1200 penerbangan setiap harinya yang dioperasikan oleh 44 maskapai asing dan 19 maskapai lokal  yang dapat membawa 60 juta penumpang pertahunnya tak heran jika bandara ini begitu padat dan sesak.

Dengan pertumbuhan industri penerbangan yang sangat signifikan dan kebutuhan transportasi udara yang terus melonjak naik tentunya bandara Soekarno Hatta harus terus meningkatkan pelayanannya ke publik baik kondisi terminalnya, penambahan kapasitas landasannya, fasilitas umum di dalam bandaranya, peremajaan trolley yang sudah usang, perawatan toilet yang baik dan tentu saja transportasi umum untuk mencapai bandara. Ya aku berdoa (dengan sangat khusyuk) agar mereka tidak diam atau sedang tertidur pulas. Berharap mereka dapat berkerja dengan lebih cepat untuk meningkatkan pelayanan untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi setiap penumpangnya.


Follow my instagram @travelographers & twitter account @travelographers 
  

2 comments:

  1. Sesak banget dan terlihat belum banyak perubahan fisik dari tahun ke tahun, cuma penumpangnya aja yang terus bertambah semenjak harga tiket pesawat banyak yang murah Kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nih. karena kebutuhan akan transporasi udara terus bertambah. jadwal penerabangan terus bertambah, tapi bandaranya belum mampu untuk mengimbangi. :(

      Delete

Ready To Explore? Let's go see and travel the world

Please do kindly subscribe to my travel blog, the place where i would share any of my travel enthusiasm there such as travel stories, travel articles and travel photos.