Thursday, April 28, 2016

Salah Satu Perjalanan Yang Mengubah Hidup, Antara Ketep Pass Hingga Borobudur


Menikmati Keindahan Gunung Merapi Dari Air Terjung Kedung Kayang

        Keberanian untuk melakukan perjalanan backpacking tidak datang begitu saja, semua adalah sebuah proses panjang yang terbentuk dari sebuah pengalaman. Sebelum aku berani melakukan backpacking ke luar negeri bersama teman hingga menjelajah seorang diri di negeri orang ada proses untuk berani berpetualang di negeri sendiri terlebih dahulu untuk berani keluar dari zona nyaman hidup di kota sendiri. Semua dimulai dari mengikuti perjalanan bersama sebuah komunitas backpacker yang membuatku banyak belajar bagaimana merencanakan sebuah perjalanan dengan konsep budget terbatas dan sharing cost. Tapi kalau kamu punya budget lebih, kamu bisa traveling dengan lebih nyaman, dan menginap di hotel dekat tempat wisata yang kamu kunjungi dari Traveloka.
 Dalam komunitas tersebut aku dapat bertemu dengan orang-orang asing yang sebelumnya tak saling kenal hingga menjadi akrab layaknya sahabat dekat bahkan keluarga sendiri. Komunitas menjadi tempat menimba ilmu dan berbagi informasi mengenai traveling yang meliputi rekomendasi destinasi wisata sampai saling “meracuni” untuk tak pernah berhenti berpetualang mengunjungi tempat-tempat menarik lainnya. 

        Salah satu perjalanan yang mengubah hidupku yaitu ketika melakukan perjalanan backpacking di Pulau Jawa hingga ke Pulau Bali melalui jalur darat menggunakan angkutan umum. Pindah dari satu kota ke kota lain dengan kereta api, singgah dari satu tempat ke tempat lain dengan bus umum, menyebrang pulau naik ferry hingga menumpang dengan penduduk lokal untuk sampai ke tempat yang dituju. Semua itu menempa keberanianku untuk tidak takut menjelajah tanah asing. Ada sebuah pengalaman hidup yang besar yang tidak dapat dibeli dengan uang dan ilmu serta wawasan yang tidak dapat dipelajari di bangku pendidikan manapun melainkan hanya dapat kita timba dari sebuah perjalanan.
       Pagi itu aku bersama teman seperjalananku Hendra hendak melanjutkan petualangan kami menjelajah Pulau Jawa. Dari Dataran Tinggi Dieng sekitar pukul 10 pagi kurang 15 menit kami turun menuju kota Wonosobo dengan bus umum berukuran kecil yang rutin melayani rute ini. Bus yang  memiliki 1 pintu masuk pada bagian tengah dengan konfigurasi tempat duduk 2-2 mulai melaju di jalan yang berkelok dengan pemandangan perkebunan terasiring di kedua sisinya. Supir yang mengendarai bus ini begitu mahir mengendarai bus besar ini. Jalanan kecil yang berliku naik turun disertai tikungan tajam dilaluinya dengan tenang. Sepertinya sudah hafalan dan menjadi makanan sehari-hari bagi supir ini, gumamku.
Tujuan kami yaitu menuju kota Magelang, mengingat pesan dari seorang bapak di Dieng yang kami temui mengatakan jika kami hendak ke Magelang kami disarankan untuk turun di Pertigaan Kretek dibanding sampai ke Terminal Bus Mendolo atau Terminal di Kota Wonosobo. Hal ini dikarenakan bis untuk tujuan ke Magelang lebih banyak di Pertigaan Kretek dibanding dari terminal. Selain itu kami juga dapat menghemat waktu dikarenakan bis yang lewat disini tidak mengetem lama untuk mencari penumpang dibandingkan bis dari terminal. Tujuan kami berikutnya yaitu Ketep Pass, sebuah tempat yang dikenal sebagai gardu pandang ketep untuk melihat panorama 5 gunung dari satu tempat yaitu gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Sindoro dan gunung Sumbing. Ketep Pass ini merupakan salah satu tujuan wisata unggulan Kabupaten Magelang.   
Lokasi gardu pandang ketep terletak pada ketinggian 1200 meter dari permukaan laut, dimana ketep pass ini berjarak 116,8 km dari Dataran Tinggi Dieng, dan 26,2 km dari kota Magelang. Dari lokasi ini anda dapat menikmati panorama atraktif gunung Merapi – Merbabu dengan terasiring lahan perkebunan dan pertanian penduduk sekitar yang umumnya menanam jagung dan padi. Selain dapat menikmati panorama alam dengan pemandangan gunung merapi, gunung Merbabu, gunung Slamet, gunung Sindoro dan gunung Sumbing, anda juga disuguhkan pemandangan beberapa deretan pegunungan kecil yang dapat terlihat dari gardu pandang Ketep seperti Telomoyo, Dieng, Andong serta perbukitan Menoreh.
Bus melaju membelah jalan yang sepi menuju kota Magelang. Di kedua sisi jalan dari balik kaca jendela bus kami disuguhkan pemandangan perkebunan serta persawahan yang menghijau. Yang membuat kami berdecak kagum ketika bus melaju melewati Kledung Pass yang menghadirkan pemandangan Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing yang begitu indah dan mempesona. 2 jam kemudian setelah melewati perjalanan indah ini akhirnya kami tiba di terminal Magelang pada pukul 1 siang.
Perjalanan dari Terminal Bus Wonosobo kami lanjutkan untuk naik bus yang ke arah Muntilan. Dari informasi yang kami peroleh dari orang di terminal bus usahakan kami harus sudah sampai di Muntilan sebelum petang dikarenakan angkutan umum disana sangat terbatas serta apabila sudah menjelang magrib angkutan umum untuk bisa sampai ke Ketep Pass sudah tidak ada lagi. Sesaat ada bus yang memiliki tujuan ke arah Muntilan kami segera naik dan memberi tahukan kepada pak kondektur agar menurunkan kami di Pertigaan Blabak sebelum pabrik Kertas, tempat dimana kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Telatar, perkampungan terdekat dengan Ketep Pass.
Sesampainya di Pertigaan Blabak sembari menunggu bus tujuan Telatar kami memanfaatkannya untuk makan siang di sebuah warung yang sederhana. Di warung inilah kami bisa beristirahat sejenak untuk berteduh dari pancaran sinar matahari yang semakin terik. Kami berbincang-bincang dengan ibu pemilik warung mengenai Ketep Pass dan para pendaki Gunung Merapi yang kami temui di warung ini.  Ketika bus tujuan Telatar lewat, kami segera bergegas membayar makan siang kami dan mengangkat ransel ke dalam bis itu. 
Jumlah armada bis yang sedikit ditambah jumlah penumpang yang cukup banyak membuat bis ini cukup padat dan sedikit berdesakan. Jarak yang ditempuh dari blabak ke Telatar yaitu kurang lebih 15 kilometer. Perjalanan terasa begitu lama karena suasana sumpek yang ada di bus ini serta kondisi bus yang sering berhenti untuk menaikan dan penumpang di pinggir jalan. Sesampainya di Telatar, waktu sudah menunjukan pukul 15:30 sore dan angkot pun sudah sangat jarang yang lewat. 
Menumpang Mobil Bak Yang Membawa Penduduk Lokal ke Arah Ketep Pass
Beruntung ada sebuah mobil bak terbuka pengangkut sayur milik penduduk setempat yang kebetulan tujuannya melewati Ketep Pass menawarkan kami untuk bisa ikut keatas. Sebuah keramahan penduduk lokal terhadap sesama yang membuat kami tersenyum bahagia. Di mobil bak terbuka tersebut didominasi kaum ibu penduduk setempat dan sekumpulan nenek yang membawa semacam bakul yaitu tempat atau wadah bagi mereka untuk membawa dan menjual hasil panen perkebunan atau pertanian di pasar. Dengan keramahan mereka, sepanjang jalan kami diajak berbincang bincang dalam bahasa jawa. Meskipun kami kurang lancar, tapi kami mengerti apa yang mereka maksud. Sepanjang jalan selalu tersenyum dan tertawa bersama diatas mobil bak itu, suatu pengalaman dan kehidupan yang sangat jarang kami alami di kota besar seperti Jakarta.
        Sesampai di Ketep Pass langit sudah mulai gelap. Untuk sekedar datang mengunjungi tempat ini kemudian pergi ke tempat lain adalah hal yang sangat sayang untuk dilakukan terlebih lagi dengan perjuangan yang telah kami lakukan dengan naik angkutan umum hingga sampai ke tempat ini. Namun kendalanya adalah kami belum tahu dimana kami bisa menginap, tidak tahu ada atau tidak penginapan murah disini serta cukup mustahil juga apabila kami harus turun kembali mengingat sudah tidak ada lagi transportasi umum yang turun gunung ke kota.

Ketep Pass, Salah Satu Tujuan Wisata Populer di Magelang
Senja Berganti Malam di Ketep Pass, Magelang
Pintu Masuk Ketep Pass, Salah Satu Tujuan Wisata Populer di Magelang

      Beruntung kami mendapat informasi dari seorang penjaga Ketep Pass yang memberitahukan kami untuk mencari Ibu Karim, salah satu penjual sayur mayur yang menjajakan dagangannya tidak jauh dari pintu masuk Ketep Pass. Kami pun segera bergegas mencari keberadaan Ibu Karim dari puluhan penjual sayur yang ada di tempat ini sampai akhirnya kami bisa bertemu dengan nya dan menanyakan ketersediaannya apakah kami dapat tinggal di tempatnya? Beruntung Ibu Karim mengiyakan permintaan tolong kami sehingga malam itu kami memiliki tempat berlindung dari dinginnya udara pegununggan di Ketep Pass.
Bisa bermalam di salah satu rumah warga di Dusun Dadapan, sebuah dusun perdesaan menjadi salah satu pengalaman menarik bagi anda yang jenuh dengan kehidupan perkotaan. Di malam hari suasana begitu hening, suara hembusan angin dan serangga serangga seperti jangkrik menjadi pengiring lantunan lagu pengantar tidur. Saat mata mengadah ke langit kami dapat menikmati gugusan bintang yang terlihat lebih terang dan begitu indah untuk dinikmati. Kami sangat menikmati kondisi rumah ibu Karim yang sederhana dengan arsitektur joglo ini. Pada bagian dalam bangunan dan beberapa bagian tembok ruangan menggunakan papan anyaman dan dapurnya pun masih menggunakan kayu bakar. Sebuah kondisi yang sangat sempurna bagi kami untuk bisa merasakan kehidupan yang bersahaja di perdesaan di sebuah dusun dan jauh dari hingar bingar suasana perkotaan. Tentang percakapan yang membuka mata kami tentang kehidupan dan kearifan penduduk setempat serta merasakan keramahan dan suasana kekeluargaan. Malam itu terasa indah dan kamipun tertidur dengan nyenyak di rumah Ibu Karim.
            Di pagi hari berikutnya sekitar jam 04:30 setelah shubuh, kami bergegas berjalan ke Ketep Pass untuk menikmati matahari terbit dengan pemandangan gunung merapi dan gunung merbabu. Berhubung kami datang sangat pagi, belum ada penjaga tiket di Ketep Pass yang jaga, sehingga kami dapat masuk secara gratis. Meskipun munculnya matahari terbitnya terhalangi awan dan gunung merapi, namun gradasi warna yang terbentang di langit pagi itu begitu indah, suatu pengalaman baru lagi bagi kami menikmati matahari terbit dari Ketep Pass.
Menikmati Matahari Terbit di Ketep Pass, Magelang
Menikmati Matahari Terbit di Ketep Pass, Magelang


Menikmati Mentari Terbit Dari Ketep Pass Magelang
Menikmati Mentari Terbit Dari Ketep Pass Magelang

Menikmati Mentari Terbit Dari Ketep Pass Magelang
Menikmati Mentari Terbit Dari Ketep Pass Magelang
             Setelah puas menikmati sunrise, kami kembali ke rumah Ibu Karim untuk menikmati sarapan yang diciptakan dari dapur tradisional. Aroma kayu bakar yang dipakai untuk memasak menciptakan cita rasa yang khas pada masakan yang kami nikmati pagi itu. Setelah sarapan dan membersihkan diri kamipun segera berpamitan dengan keluarga ibu Karim untuk melanjutkan perjalanan kami ke air terjun kedung kayang yang lokasinya tak begitu jauh dari Ketep Pass. Berdasarkan informasi yang kami dapat kami bisa mencapai air terjun tersebut dengan berjalan kaki kurang lebih 20 menit, ada jalan pintas dari Dusun Dadapan yang ditunjukan oleh seseorang yang kami tanya untuk mencapai air terjun yaitu berjalan kaki di jalan setapak melewati perkebunan penduduk dibandingkan melewati jalan aspal yang memutar.  
Dapur Tradisional Di Rumah Ibu Karim
Perkebunan di Kawasan Ketep Pass, Magelang

            Di tengah perjalanan setelah menembus lahan perkebunan kami mencapai jalan aspal, tapi jarak dari sana ke air terjun masih kurang lebih 6 kilometer. Karena kondisi jalan yang berbukit naik turun serta ransel bawaan kami cukup berat, kami memutuskan untuk menunggu angkot yang melewati tempat tersebut di persimpangan jalan.
            Sesaat kami sampai di air terjun Kedung Kayang suasana di pintu gerbang belum ada petugas yang jaga, oleh karena itu kami bisa masuk gratis lagi. Mungkin kedatangan kami terlalu dini diluar kebiasaan para wisatawan yang datang siang. Untuk menikmati air terjun Kedung Kayang terdapat dua jalur yaitu lewat jalur atas dan jalur bawah. Pilihannya dari jalur atas kami dapat menikmati keindahan air terjun dari posisi atas, tetapi apabila kami ingin mandi atau basah basahan di air terjun tersebut maka jalur setapak melalui jalur bawah lah pilihannya. Pemandangan yang bisa dinikmati yaitu Gunung Merapi dengan pemandangan hijau disekelingnya serta aneka satwa yang hidup didalamnya termasuk sekelompok monyet liar yang kerap melompat dari satu dahan pohon ke pohon lainnya.
Salah Satu Jalur Menuju Air Terjung Kedung Kayang, Magelang
Terowongan Bawah Tanah di Air Terjun Kedung Kayang Magelang
Pemandangan Yang Tersaji Di Sekeliling Air Terjung Kedung Kayang Magelang
Air Terjun Kedung Kayang, Magelang
Setelah puas menikmati pemandangan alam sekitar air terjun Kedung Kayang kami bergegas turun untuk melanjutkan perjalanan kami ke candi Borobudur. Berhubung angkot yang kami tunggu tidak datang juga, kami turun ke Telatar dengan menumpang mobil bak angkutan sayur lagi milik penduduk sekitar yang juga memiliki tujuan searah. Kami turun di Telatar kemudian menyambung bis yang tujuan ke Mutilan dan bis tujuan ke Candi Borobudur Magelang, tujuan kami berikutnya.


Menjelajahi Kembali Candi Borobudur di Magelang

Menjelajahi Kembali Candi Borobudur di Magelang
Menjelajahi Kembali Candi Borobudur di Magelang

 Salah satu tantangan untuk mencapai Ketep Pass Magelang dengan angkutan umum yaitu pilihan moda transportasi yang terbatas serta harus menyambung beberapa kali angkutan umum untuk bisa sampai kesana. Disini aku belajar tentang bagaimana menikmati sebuah perjalanan dengan cara penduduk lokal yang menggunakan angkutan umum. Disini aku belajar tentang bagaimana menjadi slow traveler yang menikmati setiap intisari dari proses perjalanan itu sendiri tidak hanya tujuan yang dicapai. Disini aku belajar untuk tinggal bersama penduduk lokal yang ramah serta belajar kearifan penduduk setempat.
Kita tidak perlu membatasi diri antara pendatang yang hanya datang singgah dengan penduduk lokal yang telah mendiami tempat tersebut sejak lama. Namun berbaurlah, menyatulah dengan mereka. Dengan begitu kita dapat merasakan esensi dari sebuah perjalanan secara mendalam, tidak hanya sebuah foto sebagai pembuktian diri kita pernah kesana namun lebih dari itu yaitu sebuah pengalaman hidup. Tentang bagaimana sebauh perjalanan dapat merubah kita menjadi individu yang lebih baik, tentang bagaimana perjalanan dapat membuat kita untuk belajar melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda.
Mengutip dari sebuah paragraf dalam buku Edensor: "Berkelana tidak hanya telah membawaku ke tempat-tempat yang spektakuler sehingga aku terpaku, tak pula hnya memberiku tantangan ganas yang menghadapkanku pada keputusan hitam putih, sehingga aku memahami manusia seperti apa aku ini. Pengembaraan ternyata memiliki paru-parunya sendiri, yang dipompa oleh kamampuan menghitung setiap resiko, berpikir tiga langkah ke depan sebelum langkah pertama diambil, integritas yang tak dapat ditawar-tawar dalam keadaan apapun, toleransi, dan daya tahan. Semua itu lebih dari cukup untuk mengubah mentalitas manusia yang paling bebal sekalipun”.

22 comments:

  1. Replies
    1. terima kasih kang adis. sukses selalu untuk what ever nya. :)

      Delete
  2. Keberanian untuk melakukan petualangan dengan cara backpacking tidak datang begitu saja, semua melewati sebuah proses panjang yang terbentuk dari sebuah pengalaman. <-- cucookkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya cocok ya. sebelum ngebolang ke negeri orang sendirian harus berani dulu menjelajah negeri sendiri untuk "latihan" :D

      Delete
  3. Saya suka banget rute ke Ketep Pass ini, membuat saya kangen sama Merbabu dan Merapi :)

    Dan pelajaran hidupnya memang banyak yang bisa diambil hikmahnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas suka dengan pemandangan di kedua sisinya, dan suka dengan keramahan penduduk lokal serta kehidupan yang bersahaja di sekelilingnya.

      Delete
    2. Keren banget pemandangannya. Penduduk lokalnya juga friendly abis mas :D

      Delete
    3. iya benar. penduduk lokal disana sangat bersahabat dan ramah.

      Delete
  4. emang benr yak, pengalaman akan mengubah seseorang menjadi lbih baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo cika. iya sejatinya perjalanan dapat memberikan kita sudut pandang yang baru dan menjadikan diri kita menjadi lebih baik.

      Delete
  5. semua melewati sebuah proses panjang yang terbentuk dari sebuah pengalaman, keren :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mas semua butuh proses, dan terkadang proses lebih bermakna dan memberi banyak pelajaran hidup dibanding hasil yang ingin dicapai.

      Delete
    2. Bener banget, tanpa proses kita tidak perna belajar :D

      Delete
  6. emang bener, perjalanan membuat pola pikir kita menjadi berubah dan bisa semakin dewasa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya setuju. setiap perjalanan pasti memiliki pelajaran dan memberi pengalaman hidup yang berbeda untuk membentuk kepribadian kita.

      Delete
  7. terowongan bawah tanahnya panjang banget..

    ReplyDelete
  8. Assalamu alaikum warohmatullahi wabarakatu.
    Saya ingin berbagi cerita siapa tau bermanfaat kepada anda bahwa saya ini seorang TKI dari johor bahru (malaysia) dan secara tidak sengaja saya buka internet dan saya melihat komentar Ibu Yanti yg dari hongkong tentan MBAH WIRANG yg telah membantu dia menjadi sukses dan akhirnya saya juga mencoba menghubungi beliau dan alhamdulillah beliau mau membantu saya untuk memberikan nomer toto 6D dr hasil ritual beliau. dan alhamdulillah itu betul-betul terbukti tembus dan menang RM.457.000 Ringgit selama 3X putaran beliau membantu saya, saya tidak menyanka kalau saya sudah bisa sesukses ini dan ini semua berkat bantuan MBAH WIRANG,saya yang dulunya bukan siapa-siapa bahkan saya juga selalu dihina orang dan alhamdulillah kini sekaran saya sudah punya segalanya,itu semua atas bantuan beliau.Saya sangat berterimakasih banyak kepada MBAH WIRANG atas bantuan nomer togel Nya. Bagi anda yg butuh nomer togel mulai (3D/4D/5D/6D) jangan ragu atau maluh segera hubungi MBAH WIRANG di hendpone (+6282346667564) & (082346667564) insya allah beliau akan membantu anda seperti saya...






    ReplyDelete

Ready To Explore? Let's go see and travel the world

Please do kindly subscribe to my travel blog, the place where i would share any of my travel enthusiasm there such as travel stories, travel articles and travel photos.